spot_img
BerandaAkademikaSuara Anak Negeri

Suara Anak Negeri

IMG 20190419 WA0048
Add Listra S. Situmeang

Si Kecil di Penghujung Hari

Nona tua! Sepertinya aku tau alasan kenapa ketika belia aku sering pulang agak larut

Mestinya aku takut dengan lidi kecil di tanganmu “pulang!” teriakmu kesetanan

Senja mengingatkanku akan masa kecil yang kubilang suram itu salah

Suramnya, aku tak sebebas teman temanku menghabiskan seharian penuh untuk bersenang senang

Yang kuingat, ketika hari mulai larut, ada raut penuh kebencian mengejar ngejarku menyuruhku lekas pulang

Kala itu senja, dan aku ingin berlama-lama memandanginya

Barangkali luka luka pemberianmu kan sembuh

Setidaknya mengurangi sakitnya. Maksudku “sakitnya ku lupakan sejenak”

Tapi walau begitu Nona, aku senang telah mengenalmu. Betapa aku mengerti bahwa kulitku mestinya tak pantas berbenturan dengan sebatang lidi

Kelak belia yang ku kenal kan kubiarkan menikmati senja dengan nyaman…

Listra S. Situmeang
Medan, 19 April 2019

Pengembara dan Semesta 

Kaki kaki telanjang sore hari menjelang petang, abaikan senja, apa bisa?

Hijau dan jingga akan jadi perpaduan yang luar biasa indah

Ayo berhenti menjadi liar seolah jalanan kota ialah milikmu, yang hartamu seluruhnya seperti sudah tertanam di kolong jembatan

Sesekali, pergilah ke persembunyian
mengikuti orang orang normal

Hiduplah di tengah-tengah belukar, dan jatuh cinta lah perlahan

Sore yang biasa kau habiskan dengan riuh knalpot serta cemooh kesombongan kaum munafik kan terganti,

Tak lagi lautan karbondioksida, kau bisa berenang di sungai yang jernihnya melebihi mata bayi tanpa dosa.

Tak lagi polesan make up tebal, kau kan berdampingan dengan hjjaunya pepohonan

Semesta bukan pilihan, berkemaslah yang rapih. Barangkali kau yang terpilih.

Listra S. Situmeang
Medan, 19 April 2019

Tentang Aku yang Sedang Sakit

Rindu terbalut luka yang teramat dalam, rindu yang menjadikan hari hari menjadi kelam, rindu yang susah dilupakan dan berkepanjangan

Tenang, tenang, biarkan hujan reda sendirinya,  hujan kan menghapus luka, hujan takkan menyisakan noda

Kuatkan kaki ku, kali ini aku terjatuh ke dasar kejenuhan yang teramat dalam, dasar dari segala penderitaan, dasar yang berujung kematian

Melipat tangan pun rasanya sudah enggan, enggan sebab aku seorang yang lupa Tuhan ini, sebab aku lebih memilih jalanku sendiri dituntun ego serta pikiran yang berantakan.

20 tak lagi semulus perjalanan masa kecil yang masih bisa tertawa bebas diantara rumput ilalang, tantangan terbesar hanya buku mata pelajaran hitungan.

Kakiku enggan melangkah keluar dari tempat ini, sesuatu yang berat menahannya.

Kutarik lalu kakiku perlahan membiru, tidak sesakit jatuh ke jurang memang, tapi aku masih enggan

Lagi lagi harus kutanya, kenapa, mengapa, bagaimana?
Aku tidak siap menuju ujung jalan disana, aku ingin berhenti sejenak, aku ingin bersahabat dengan angin dan hujan, aku tidak akan kemana mana

Sakit ini harus diobati, maklumilah waktunya kan cukup lama
Tunggulah sebentar, bersabarlah, aku pasti pulang!

Listra S. Situmeang, Mahasiswa Pencinta Alam MAHATALA Universitas HKBP Nomnensen Medan
Medan, 19 April 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini