Add Listra S. Situmeang |
Si Kecil di Penghujung Hari
Nona tua! Sepertinya aku tau alasan kenapa ketika belia aku sering pulang agak larut
Mestinya aku takut dengan lidi kecil di tanganmu “pulang!” teriakmu kesetanan
Senja mengingatkanku akan masa kecil yang kubilang suram itu salah
Suramnya, aku tak sebebas teman temanku menghabiskan seharian penuh untuk bersenang senang
Yang kuingat, ketika hari mulai larut, ada raut penuh kebencian mengejar ngejarku menyuruhku lekas pulang
Kala itu senja, dan aku ingin berlama-lama memandanginya
Barangkali luka luka pemberianmu kan sembuh
Setidaknya mengurangi sakitnya. Maksudku “sakitnya ku lupakan sejenak”
Tapi walau begitu Nona, aku senang telah mengenalmu. Betapa aku mengerti bahwa kulitku mestinya tak pantas berbenturan dengan sebatang lidi
Kelak belia yang ku kenal kan kubiarkan menikmati senja dengan nyaman…
Listra S. Situmeang
Medan, 19 April 2019
Pengembara dan Semesta
Kaki kaki telanjang sore hari menjelang petang, abaikan senja, apa bisa?
Hijau dan jingga akan jadi perpaduan yang luar biasa indah
Ayo berhenti menjadi liar seolah jalanan kota ialah milikmu, yang hartamu seluruhnya seperti sudah tertanam di kolong jembatan
Sesekali, pergilah ke persembunyian
mengikuti orang orang normal
Hiduplah di tengah-tengah belukar, dan jatuh cinta lah perlahan
Sore yang biasa kau habiskan dengan riuh knalpot serta cemooh kesombongan kaum munafik kan terganti,
Tak lagi lautan karbondioksida, kau bisa berenang di sungai yang jernihnya melebihi mata bayi tanpa dosa.
Tak lagi polesan make up tebal, kau kan berdampingan dengan hjjaunya pepohonan
Semesta bukan pilihan, berkemaslah yang rapih. Barangkali kau yang terpilih.
Listra S. Situmeang
Medan, 19 April 2019
Tentang Aku yang Sedang Sakit
Rindu terbalut luka yang teramat dalam, rindu yang menjadikan hari hari menjadi kelam, rindu yang susah dilupakan dan berkepanjangan
Tenang, tenang, biarkan hujan reda sendirinya, hujan kan menghapus luka, hujan takkan menyisakan noda
Kuatkan kaki ku, kali ini aku terjatuh ke dasar kejenuhan yang teramat dalam, dasar dari segala penderitaan, dasar yang berujung kematian
Melipat tangan pun rasanya sudah enggan, enggan sebab aku seorang yang lupa Tuhan ini, sebab aku lebih memilih jalanku sendiri dituntun ego serta pikiran yang berantakan.
20 tak lagi semulus perjalanan masa kecil yang masih bisa tertawa bebas diantara rumput ilalang, tantangan terbesar hanya buku mata pelajaran hitungan.
Kakiku enggan melangkah keluar dari tempat ini, sesuatu yang berat menahannya.
Kutarik lalu kakiku perlahan membiru, tidak sesakit jatuh ke jurang memang, tapi aku masih enggan
Lagi lagi harus kutanya, kenapa, mengapa, bagaimana?
Aku tidak siap menuju ujung jalan disana, aku ingin berhenti sejenak, aku ingin bersahabat dengan angin dan hujan, aku tidak akan kemana mana
Sakit ini harus diobati, maklumilah waktunya kan cukup lama
Tunggulah sebentar, bersabarlah, aku pasti pulang!
Listra S. Situmeang, Mahasiswa Pencinta Alam MAHATALA Universitas HKBP Nomnensen Medan
Medan, 19 April 2019