Oleh : Nurwahyudin, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University
Nama Siska Mulyawaty mungkin sudah tidak asing bagi mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University, khususnya mereka yang berada dalam program studi Komunikasi Digital dan Media. Lahir di Sukabumi pada 14 November 1988, Bu Siska tumbuh dalam keluarga yang kental dengan dunia pendidikan. Ayahnya seorang guru, sehingga sejak kecil ia sudah terbiasa dengan ekspektasi tinggi dalam prestasi akademik. “Masa anak guru nggak dapat ranking?” Candaan itu sering ia dengar, tapi justru membuatnya semakin termotivasi.
Saat SMA, Bu Siska memilih jurusan IPA, karena pada saat itu anak IPA sering dianggap lebih unggul dari jurusan lain. Namun, ketertarikannya sebenarnya lebih condong ke bidang bahasa. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman dari jurusan Bahasa dibandingkan dengan teman sekelasnya sendiri. Setelah lulus, ia mencoba peruntungan di Hubungan Internasional UNPAD, tetapi belum berhasil. Justru yang diterima adalah Pendidikan Matematika di UPI, namun karena kurangnya minat, ia memilih untuk tidak mengambilnya. Akhirnya, ia menemukan passionnya di bidang komunikasi dan mengambil D3 Periklanan Fikom UNPAD. Meski menyukai dunia kreatif di advertising, ia juga tertarik mendalami jurnalistik yang berbasis fakta dan data. Keinginan ini mendorongnya untuk melanjutkan ke S1 Jurnalistik Fikom UNPAD, hingga akhirnya menyelesaikan keduanya dengan predikat cumlaude. Meskipun kedua bidang ini memiliki latar yang berbeda, baginya, jurnalistik dan advertising adalah dua bidang yang saling melengkapi, advertising mengasah kreativitasnya, sementara jurnalistik memperkuat daya analisisnya.
Keputusan untuk melanjutkan studi ke S2 di IPB muncul setelah ia menikah dan berdomisili di Bogor. Ia memilih jurusan Komunikasi Pembangunan, didorong oleh ayahnya serta ayah mertuanya yang merupakan seorang dosen. Agustus 2016 menjadi momen yang selalu diingat dalam hidupnya, ketika ia resmi menyelesaikan pendidikan S2. Tak butuh waktu lama, hanya berselang beberapa bulan, tepatnya pada November 2016, ia mulai mengajar di D3 Komunikasi Sekolah Vokasi IPB University.
Menjadi dosen bukanlah impian yang sejak awal ia rencanakan. Awalnya, ia bertanya-tanya, “Bisa nggak ya?” Namun, setelah dijalani, ia justru menemukan kebahagiaan tersendiri dalam dunia akademik. Baginya, mengajar bukan sekadar membagikan ilmu, tetapi juga berbagi energi dan semangat dengan mahasiswa. Kini, ia mengampu berbagai mata kuliah di program studi Komunikasi Digital dan Media, namun tidak hanya di prodi komunikasi, ia juga sempat mengampu di berbagai program studi lain seperti Supervisor Jaminan Mutu Pangan (SJMP), Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan (IKN), serta Akutansi (AKN).
Salah satu penelitiannya yang menarik adalah tentang “Efektivitas Website Desa,” yang menjadi topik tesis S2-nya pada 2015-2016. Saat itu, konsep e-government sedang berkembang pesat, termasuk pengadaan website untuk pemerintahan di berbagai tingkat, mulai dari kementerian hingga desa. Ia tertarik meneliti bagaimana website di tingkat desa berfungsi, terutama dengan segala keterbatasan seperti anggaran, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Penelitiannya dilakukan di Desa Malasari, Kabupaten Bogor.
Selain mengajar, Bu Siska juga kerap terlibat dalam berbagai kegiatan mahasiswa. Ia pernah menjadi juri untuk lomba podcast dan video kreatif, serta menjadi pembicara dalam kegiatan Kampus Desa. Baginya, interaksi dengan mahasiswa di luar kelas memberikan pengalaman berbeda dan semakin memperkaya sudut pandangnya sebagai pendidik. Kesempatan ini juga membuatnya lebih memahami tantangan yang dihadapi mahasiswa dalam industri kreatif dan komunikasi.
Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi digital, Bu Siska melihat banyak peluang sekaligus tantangan. Menurutnya, keberadaan AI dan kemudahan akses informasi harus dimanfaatkan secara bijak. “Teknologi itu alat bantu, jangan sampai justru menggantikan kreativitas dan ide kita sendiri,” ujarnya. Tantangan terbesar bagi mahasiswa saat ini bukan hanya memahami teknologi, tetapi juga bagaimana tetap kritis dan inovatif dalam menggunakannya.
Sebagai dosen, ia ingin terus mendorong mahasiswanya untuk berkembang. Ia berpesan agar mereka terus mengasah keterampilan dan tidak takut bereksplorasi. “Komunikasi itu luas banget, jadi jangan takut untuk eksplorasi dan menemukan bidang yang paling cocok untuk kalian,” pesannya. Perjalanan karier Bu Siska membuktikan bahwa menemukan passion tidak selalu berjalan lurus dan instan. Justru, melalui berbagai eksplorasi dan pengalaman, seseorang bisa menemukan jalan terbaiknya sendiri. (Red/*)