spot_img
BerandaAkademikaSahabat Iman Orthodox Indonesia : "Perlunya Revitalisasi Nilai-Nilai Ke-Indonesiaan Melalui Kultivasi Empat...

Sahabat Iman Orthodox Indonesia : “Perlunya Revitalisasi Nilai-Nilai Ke-Indonesiaan Melalui Kultivasi Empat Pilar Kebangsaan Kaum Milenial”

IMG 20190524 142521
Pdt. Tetty Pinangkaan S.Th, dari Fraksi Hanura MPR RI
Membuka Seminar Nasional Sosialisasi Empat Pilar dalam Hidup Berbangsa, Jumat (24/5/2019)
di Hotel Grand Antares Medan
Foto : Kopi-times.com/Hery Buha Manalu


Kopi Times | Medan :
Sahabat Iman Orhodox Indonesia bekerjasama dengan Fraksi Partai Hanura mengadakan Seminar Nasional Sosialisasi Empat Pilar dalam Hidup Berbangsa, seminar yang menekankan perlunya revitalisasi nilai-nilai Ke-Indonesiaan melalui kultivasi empat pilar kebangsaan kaum milenial, Jumat (24/5/2019) di Hotel Grand Antares Medan.
Acara diawali dengan lagu Indonesia Raya, hening cipta dan doa pembuka. Setelah acara dibuka Pdt. Tetty Pinangkaan S.Th, dari Fraksi Hanura MPR RI, Dr. Adolfina Koamesakh, M. Th dari Sekolah Tinggi Teologia (STT) Paulus, Medan menegaskan perlunya penguatan kesadaran kepada kaum milineal untuk tetap menjaga persatuan demi kepentingan nasional, kita satu dalam perbedaan, Bhinneka Tunggal Ika.
“Revitalisasi berhubungan erat dengan pengertian sebagai kehormatan bangsa. Dimana bangsa adalah yang bersifat nasional. Lalu makna ke-nasionalan yang dimaksud berasal dari kearifan lokal nusantara yang merajut menjadi nilai Ke-Indonesiaan kita”, tegas Adolfina dihadapan mahasiswa peserta seminar.

Isi 4 Pilar Kebangsaan : Pilar Pancasila, Pancasila merupakan pilar pertama untuk mengokohkan negara bangsa Indonesia, Pilar Undang-Undang Dasar 1945. UUD 1945 sebagai pilar kedua dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, kemudian Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Pilar Bhinneka Tunggal Ika.

Revitalisasi yang berarti identitas dan juga mempertahankan kehormatan bangsa ini merupakan hal yang sangat penting dan perlunya ditanamkan kepada kaum mileneal. Menurutnya, sering perbedaan yang menjadi alasan konflik belakangan ini.
Lebih lanjut dipaparkannya, perbedaan keyakinan atau agama isu yang menjadi persoalan masyarakat zaman now, tak jarang isu perbedaan keyakinan berakhir dengan penindasan, penganiayaan terhadap kaum minoritas dan bahkan hingga terjadi peperangan.
Perbedaan keyakinan menjadi rumit
yang bukan saja menciptakan konflik antar agama tetapi juga pada internal agama  atau keagamaan untuk mencapai tujuan perjuangan politik pragmatis.
Ada empat nilai ke – Indonesia atau mutiara Indonesia dalam empat pilar kebangsaan yakni, Nilai kesenangan, yaitu menciptakan kegembiraan bagi orang lain seperti kita inginkan orang perbuat yang sama. Nilai kehidupan atau kemanusiaan yang menjunjung hak-hak Universal bagi individu maupun sebagai bangsa antara lain kemerdekaan, kebebasan, dan kesejahteraan.

Nilai persatuan sebagai suatu bangsa tetapi sekaligus sebagai mahluk dunia secara internasional. Nilai demokrasi yaitu demokrasi sosial dan ekonomi. Memiliki kedaulatan terhadap pilihan politik. Bertanggung jawab terhadap bangsa dan negara.


Adolfina juga mngingatkan kepada para peserta yang kebanyakan adalah kaum milineal tentang pentingnya kesadaran berdemokrasi, bahwa nilai demokrasi di Indonesia, demokrasi sosial dan ekonomi. Memiliki kedaulatan terhadap pilihan politik. Bertanggungjawab terhadap bangsa dan negara.
“Demokrasi Indonesia adalah demokrasi Pancasila yang mengedepankan azas musyawarah untuk mufakat. Nilai yang teratas adalah mutiara yang murni dimana setiap warga Indonesia terilhami oleh setiap kesucian agamanya melakukan kebaikan-kebaikan tertinggi sesuai dengan ajaran agama untuk mencapai kualitas hidup yang hakiki. Kehidupan yang hakiki itu adalah Tuhan. Bangsa Indonesia percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, perlu untuk berjuang meniru Nya dan melakukan kehendakNya yang suci.” tutup Adolfina.
Seminar ini turut dihadiri Fraksi Partai Hanura MPR RI, Pdt. Tetty Pinangkaan S.Th, dr. Erik Atrada Ritonga, Evita Wari, dan Dr. Adolfina E. Koamesakh, M. Th.M. Hum serta para akademika dosen dan mahasiswa STT Paulus. (Red/Hery Buha Manalu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini