spot_img
BerandaAkademikaMuhammad Dava Alnasyuri: Muda, Berkarir, dan Berkarya di Dunia Perikanan

Muhammad Dava Alnasyuri: Muda, Berkarir, dan Berkarya di Dunia Perikanan

Oleh : Albina Sherly Putri Ananta, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

Muhammad Dava Alnasyuri lahir di Cikarang Barat pada 11 Februari 2003. Ia lulus dari SMA Negeri 1 Cikarang Barat pada tahun 2021 dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Vokasi IPB University program D4 Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan. Program ini sebelumnya dikenal dengan nama Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, yang kini telah mengalami perubahan nama. Dava memilih untuk menempuh studi di bidang ini karena melihat potensi karir yang luas di industri perikanan. Bidang ini mencakup budidaya ikan, pengolahan hasil laut, manajemen sumber daya perairan, hingga perdagangan hasil perikanan. Selain itu, sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar di sektor perikanan. Ia juga melihat peluang untuk berkontribusi dalam pelestarian ekosistem perairan dan mendukung ketahanan pangan global.

Dava memutuskan untuk menjadi asisten dosen (asdos) meskipun masih berstatus mahasiswa. Salah satu alasan utamanya adalah untuk mendapatkan pengalaman tambahan yang bermanfaat setelah lulus, sekaligus agar materi yang dipelajari dapat terus terulang sehingga mudah diingat. Menjadi asdos juga memberikan kesempatan untuk memperoleh sertifikat yang dapat mendukung pengalaman profesionalnya. Sebelum terjun sebagai asdos, Dava sudah memiliki berbagai pengalaman, seperti menjadi Ketua Koordinator Dewan Perwakilan Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB Kampus Sukabumi. Ia juga telah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Lombok selama empat bulan, di mana ia belajar mengenai budidaya ikan nemo dan bawal bintang. Selain itu, ia melakukan PKL di Kepanjen, Malang, untuk mempelajari budidaya ikan nila. Tidak hanya itu, Dava juga berprestasi dalam bidang olahraga dengan meraih Juara 1 Piala Walikota Bekasi dalam turnamen sepak bola bersama teman-temannya dari jurusan IKN. Ia juga berkesempatan untuk magang di Kementerian Kelautan dan Perikanan, tepatnya di Direktorat Pembenihan Ikan, serta terlibat dalam pengurusan sertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik).

Selama menjalani pendidikan di IPB, Dava menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah proses adaptasi dengan lingkungan baru, terutama setelah menjalani perkuliahan secara daring. Selain itu, beragamnya latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menuntutnya untuk menyesuaikan diri dengan berbagai kebiasaan dan cara berpikir yang berbeda. Tidak hanya itu, Dava juga harus beradaptasi dengan mata kuliah yang lebih teknis, seperti ilmu meteorologi perairan, yang jauh berbeda dari bayangannya tentang dunia perikanan yang hanya berfokus pada pemberian makan dan pergantian air dalam budidaya ikan. Ia menyadari bahwa perikanan memerlukan pemahaman tentang banyak faktor lain, seperti arah angin, ketinggian ombak, dan faktor cuaca lainnya.

Menjadi asdos juga memberikan tantangan tersendiri bagi Dava. Sebagai anak tongkrongan yang dekat dengan teman-temannya, Dava harus menghadapi kenyataan bahwa mahasiswa yang ia ajar juga merupakan teman seangkatan. Hal ini membuatnya sering kali dianggap sebagai teman biasa, bukan sebagai asdos. Oleh karena itu, Dava harus lebih tegas dan profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai asdos agar tetap dihormati oleh mahasiswa. Selain itu, ia juga sering begadang untuk mendampingi mahasiswa praktikum, seperti dalam mata kuliah Teknik Pemeliharaan Larva Ikan Patin. Praktikum ini mengharuskannya untuk mengawasi larva ikan setiap tiga jam sekali untuk pemberian pakan, yang membuatnya harus bertahan di kampus hingga larva ikan patin diberi makan.

Meskipun menghadapi tantangan, Dava merasa banyak keuntungan menjadi asdos. Salah satunya adalah pengulangan materi kuliah yang membantunya mengingat dan memperdalam pemahaman tentang topik perkuliahan. Selain itu, ia merasa lebih banyak memiliki kesempatan untuk memperluas relasi, baik dengan mahasiswa angkatan bawah maupun atas. Ia juga merasa lebih percaya diri dalam mengajar dan berbagi pengetahuan dengan mahasiswa, meskipun sudah lulus dan tidak lagi berada di kampus.

Dava mengampu mata kuliah Teknik Pemeliharaan Larva Ikan, yang melibatkan banyak praktikum dan perhatian terhadap kondisi larva ikan. Dalam menjalankan tugasnya, ia berusaha untuk selalu bersikap profesional di kelas. Selain itu, ia juga berusaha berbaur dengan mahasiswa yang pendiam agar mereka merasa lebih nyaman untuk bertanya. Dava selalu mengingatkan mahasiswa untuk aktif bertanya sebelum kelas dimulai, sehingga suasana belajar di kelas lebih interaktif dan efektif.

Sejumlah pencapaian yang telah diraih oleh Dava di antaranya adalah meraih Juara 1 dalam turnamen Piala Walikota Bekasi di bidang sepak bola. Ia juga mengikuti lomba Olimpiade Vokasi Indonesia (Olivia) yang bertujuan untuk membangun inovasi di sektor UMKM perikanan di Sukabumi. Selain itu, ia berpartisipasi dalam Pekan Kreativitas Mahasiswa IPB dan mengikuti berbagai kompetisi yang membantunya mendapatkan penghargaan atas prestasi yang diraih.

Ke depannya, Dava berencana untuk melanjutkan karir di bidang pemerintahan, khususnya di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ia berharap dapat diterima sebagai P3K atau CPNS. Meskipun memiliki pengalaman sebagai asdos, Dava tidak berencana untuk melanjutkan karir sebagai dosen karena ia merasa pekerjaan tersebut cukup rumit dan memerlukan banyak waktu. Sebagai alternatif, ia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri guna memperdalam ilmunya.

Dava juga memiliki harapan besar untuk generasi muda yang ingin berkarir di bidang perikanan, khususnya di sektor pembenihan ikan. Ia berharap mereka dapat membuktikan bahwa sektor perikanan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta membuka banyak peluang kerja bagi masyarakat. Ia ingin menghapus stigma bahwa lulusan perikanan tidak memiliki masa depan cerah. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri serta bangga menjadi bagian dari sektor yang memiliki potensi besar bagi Indonesia sebagai negara maritim, di mana 80% wilayahnya merupakan lautan. (Red/*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini