Oleh: Hery Buha Manalu
Dalam rangka memperingati Hari Teater Sedunia, komunitas teater di Medan menggelar diskusi bertajuk Ngabuburiteater pada Rabu, 26 Maret 2025, di RKI (Rumah Karya Indonesia). Acara ini menghadirkan sederet pelaku teater dan akademisi, antara lain Yusuf Fadillah dari Bandar Peran, Angreani Sihotang dari Teater O USU, serta Munawar Lubis dari Sutra Medan Teater, dengan Jones Gultom sebagai moderator.
Diskusi ini menggali kembali makna dan relevansi teater dalam perubahan sosial, terutama di tengah dinamika masyarakat modern. Sebuah pertanyaan mendasar menjadi pemantik perbincangan: Apakah teater masih memiliki panggilannya sebagai alat perubahan sosial, atau telah kehilangan panggungnya dalam bayang-bayang politik?
Teater sebagai Kebebasan dan Kemerdekaan
Dalam perbincangan yang mengalir, teater diposisikan sebagai ruang kebebasan berekspresi dan kemerdekaan berpikir. Sebagai seni yang menghidupkan realitas sosial, teater seharusnya tetap menjadi medium refleksi dan kritik atas kondisi masyarakat. Yusuf Fadillah menegaskan bahwa teater bukan sekadar hiburan, melainkan juga alat untuk mengasah kesadaran kolektif.
“Teater adalah milik rakyat, bukan hanya milik para seniman. Ia lahir dari kehidupan dan harus kembali ke kehidupan. Jika kita bicara perubahan sosial, maka teater seharusnya masih relevan sebagai cermin realitas,” ujarnya.
Namun, dalam konteks kekinian, muncul kegelisahan: Apakah teater masih mampu menjadi suara perubahan? Atau justru terpinggirkan oleh dominasi media digital dan politik yang kian pragmatis?
Seni, Politik, dan Perubahan Sosial
Pernyataan menarik muncul dalam diskusi, bahwa seni adalah kembaran politik. Sebuah gagasan yang menyoroti keterkaitan erat antara dunia seni dan dinamika kekuasaan. Munawar Lubis menyoroti bagaimana politik hari ini justru semakin menjauh dari nilai-nilai seni, yang idealnya berangkat dari kejujuran dan humanisme.
“Jika seni adalah kembaran politik, mengapa politik hari ini justru membelokkan arah perubahan, bukannya memperbaiki? Lalu, apakah teater masih memiliki panggilannya untuk meluruskan keadaan?” tanyanya.
Dalam konteks ini, teater bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perlawanan. Ia bisa menjadi alat edukasi, membentuk kesadaran kritis masyarakat terhadap ketimpangan sosial dan ketidakadilan. Namun, teater juga menghadapi tantangan besar: panggungnya semakin sempit, dan daya jangkaunya semakin terbatas di tengah gelombang budaya instan yang lebih menarik perhatian publik.
Panggung Teater vs Panggung Politik
Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi adalah apakah teater sudah kehilangan panggungnya? Dalam arus politik yang semakin banal, sering kali seni tereduksi menjadi alat propaganda. Angreani Sihotang menyoroti bahwa dalam sejarahnya, teater selalu menjadi bagian dari perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Teater yang sejati tidak tunduk pada kekuasaan. Ia justru harus menjadi oposisi yang jujur terhadap realitas. Jika politik membelokkan kebenaran, maka teater harus meluruskannya,” tegasnya.
Namun, tantangan yang dihadapi hari ini adalah bagaimana mempertahankan teater sebagai alat perubahan. Di banyak tempat, seni pertunjukan kehilangan ruang karena minimnya dukungan infrastruktur dan apresiasi masyarakat.
Maka, bagaimana mengembalikan budaya berteater ke dalam kehidupan sosial?
Mengembalikan Teater ke Masyarakat
Diskusi ditutup dengan refleksi mengenai apa yang harus diperbarui dalam semangat Hari Teater Sedunia. Para narasumber sepakat bahwa teater tidak boleh kehilangan roh edukatifnya. Teater harus kembali ke akar: menjadi bagian dari masyarakat, menyuarakan persoalan sosial, dan merangsang pemikiran kritis.
Jones Gultom, sebagai moderator, menyimpulkan bahwa tantangan terbesar teater saat ini bukan hanya mempertahankan eksistensinya, tetapi juga membangun kembali relevansinya dalam kehidupan sosial dan politik.
“Teater bukan hanya milik panggung pertunjukan, tapi juga milik keseharian. Jika ingin tetap hidup, teater harus terus menyuarakan perubahan dan menjadi ruang bagi ekspresi kejujuran,” tutupnya.
Hari Teater Sedunia tahun ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat: bahwa panggung teater dan panggung sosial harus tetap terhubung. Jika politik semakin membengkokkan kebenaran, maka teater harus menjadi suara yang meluruskannya.