Kopi Times | Medan :
Rumah Karya Indonesia (RKI) kembali menghadirkan ruang diskusi bagi insan film melalui Lake Toba Film Festival, sebuah ajang yang semakin mengukuhkan peran Sumatera Utara dalam perkembangan sinema nasional. Dalam sesi “Bincang Sinema: Isu Lokal Menuju Jendela Oscar” yang digelar secara daring pada Sabtu, 29 Maret 2025, sineas Jeremias Nyangoen hadir sebagai narasumber utama. Diskusi yang dimoderatori oleh Wahyu Ginting ini dihadiri oleh para pelaku film dari Sumatera Utara, membahas film Women from Rote Island dan seputar film di Indonesia.
Film yang Menggugah
Women from Rote Island mengangkat kisah kehidupan perempuan di Rote, Nusa Tenggara Timur, yang berjuang menghadapi realitas keras akibat sistem yang tidak berpihak kepada mereka. Film ini mengikuti kisah Orpa (Merlinda Dessy Adoe), seorang ibu tunggal yang harus mengurus tiga anak perempuan setelah suaminya meninggal dunia. Tragedi semakin dalam ketika putri sulungnya, Martha (Irma Novita Rihi), pulang ke kampung halaman setelah bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Kepulangannya membawa luka, baik fisik maupun mental, akibat kekerasan seksual yang dialaminya di negeri orang.
Alih-alih mendapatkan perlindungan, Martha justru menghadapi stigma dan diskriminasi di kampung halamannya sendiri. Keluarganya dikucilkan, dan upaya mencari keadilan menjadi perjuangan panjang yang penuh hambatan. Film ini bukan hanya menampilkan sisi gelap kehidupan perempuan di daerah terpencil, tetapi juga memperlihatkan kekuatan mereka dalam menghadapi ketidakadilan yang sistematis.
Diskusi Film, Isu Lokal dengan Gaung Global
Dalam diskusi yang berlangsung selama dua jam, Jeremias Nyangoen mengupas berbagai aspek dari Women from Rote Island, mulai dari proses kreatif hingga tantangan dalam membawa film ini ke panggung dunia. Salah satu poin utama yang dibahas adalah bagaimana film ini menyoroti isu kekerasan seksual dan hak-hak perempuan, yang meskipun berakar pada konteks lokal, memiliki relevansi global.
Nyangoen mengungkapkan bahwa inspirasi film ini berasal dari berbagai kisah nyata perempuan Indonesia yang mengalami ketidakadilan akibat sistem hukum dan sosial yang belum sepenuhnya berpihak kepada korban. “Film ini adalah suara bagi mereka yang selama ini terbungkam. Kita tidak hanya ingin bercerita, tetapi juga mengajak penonton untuk berpikir dan bertindak,” ujarnya.
Wahyu Ginting sebagai moderator menyoroti bagaimana film ini menggunakan sinematografi sederhana namun penuh makna untuk menyampaikan pesan yang mendalam. Ia juga menggarisbawahi bahwa kekuatan utama Women from Rote Island terletak pada naskah yang kuat dan akting memukau para pemainnya.
Salah satu topik yang menarik perhatian adalah peluang Women from Rote Island untuk menembus Oscar. Dengan prestasi luar biasa di Festival Film Indonesia (FFI) 2023, di mana film ini meraih 14 nominasi termasuk Film Cerita Panjang Terbaik, ada potensi besar bagi film ini untuk bersaing di tingkat internasional.
Diskusi menyoroti beberapa faktor kunci yang dapat mendukung sebuah film dalam perjalanan menuju Oscar. Pertama, relevansi tema yang diangkat. Kekerasan terhadap perempuan adalah isu universal yang mendapat perhatian luas di berbagai negara. Kedua, pendekatan storytelling yang kuat dan emosional, yang dapat meninggalkan kesan mendalam bagi juri dan penonton internasional. Ketiga, strategi distribusi dan promosi yang tepat. Film ini perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar bisa memenuhi persyaratan untuk bersaing di Academy Awards.
Para peserta diskusi, yang terdiri dari sineas, kritikus, dan pengamat film, sepakat bahwa Women from Rote Island memiliki potensi besar untuk mengangkat sinema Indonesia ke panggung dunia. Namun, mereka juga menyadari pentingnya dukungan dari pemerintah dan industri film nasional dalam mendorong karya-karya berkualitas agar mendapatkan pengakuan global.
Film sebagai Medium Perjuangan
Lake Toba Film Festival kali ini bukan hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga panggung untuk mendiskusikan bagaimana isu-isu lokal dapat memiliki dampak global. Women from Rote Island adalah bukti bahwa film dapat menjadi alat perjuangan, bukan sekadar hiburan. Dengan narasi yang kuat, akting yang emosional, dan sinematografi yang menyentuh, film ini membawa suara perempuan Rote ke panggung internasional.
Melalui diskusi ini, semakin jelas bahwa sinema bukan hanya tentang seni visual, tetapi juga tentang bagaimana cerita dapat menggerakkan perubahan. Tetapi dengan dukungan yang tepat, film ini bisa menjadi jendela bagi dunia untuk melihat realitas yang selama ini tersembunyi. Sebuah film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran dan menginspirasi perlawanan terhadap ketidakadilan. (Red/Hery Buha Manalu)