Nurwahyudin, Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University
Di zaman modernisasi ini teknologi sudah tidak bisa terpisahkan dalam kehidupan manusia, tidak terkecuali dengan artificial intelligence (AI), kecerdasan buatan ini sudah merambah dan digunakan di berbagai bidang. Dari dunia kerja maupun hiburan, hingga sistem AI yang lebih kompleks seperti di bidang informasi, teknologi ini terus berkembang pesat. Namun, di balik kemajuan yang ditawarkan, muncul pertanyaan besar apakah manusia semakin bergantung pada AI? Dan jika iya, apakah ini sebuah kemajuan atau justru menjerumuskan manusia dalam ketergantungan kecerdasan buatan?
AI dalam segala aspek kehidupan
Dalam beberapa tahun terakhir AI melesat dengan sangat cepat, hal ini terbukti dengan banyaknya variasi AI saat ini, hampir semua aspek kehidupan manusia telah tersentuh oleh AI. Dalam dunia industri, robot berbasis AI telah menggantikan banyak tugas yang membutuhkan tenaga manusia, tidak hanya dalam dunia kerja, AI juga telah masuk kedalam kehidupan pribadi manusia. Asisten virtual seperti Google Assistant dan Siri kini sudah dapat membantu mencari informasi dengan cepat, aplikasi navigator seperti Google Maps membantu masyarakat menemukan rute tercepat ke tujuan, aplikasi Ai seperti Chatgpt kini sering digunakan pelajar untuk mengerjakan tugas secara instan, bahkan di dunia hiburan saat ini AI sudah mampu membuat sebuah musik, gambar, hingga membuat sebuah video. Karena kebergantungan manusia terhadap AI semakin terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaannya adalah jika manusia semakin terbiasa mengandalkan AI dalam segala hal, apakah mereka masih mampu berpikir dan bertindak secara mandiri?
Dampak dari AI
Tidak dapat disangkal AI memang memberikan banyak keuntungan bagi manusia. Kecepatan, akurasi, dan efisiensi yang ditawarkan AI membantu kita untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan lebih efektif. Namun, di sisi lain, kebergantungan yang berlebihan terhadap AI juga membawa berbagai risiko. Salah satu resiko terbesar adalah hilangnya kemandirian manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan. Jika AI selalu memberikan jawaban atas semua pertanyaan, apakah manusia masih memiliki dorongan untuk mencari solusi sendiri? Selain itu AI juga berpotensi mengancam lapangan pekerjaan, otomatisasi telah banyak menggantikan pekerjaan manual, jika tidak ada keseimbangan antara manusia dan kemajuan teknologi, pengangguran di sebuah negara akan meningkat secara drastis. Tidak hanya itu AI juga bisa berpotensi menimbulkan resiko keamanan data dan privasi, mengingat AI memproses dan menyimpan banyak informasi pribadi pengguna.
Solusi atau ancaman
Munculnya teknologi AI yang semakin canggih menimbulkan pertanyaan, apakah AI hanya akan menjadi alat bagi manusia, ataukah pada akhirnya menggantikan peran manusia itu sendiri? Beberapa pekerjaan telah mulai digantikan oleh AI, seperti kasir swalayan yang digantikan oleh mesin otomatis, atau presenter yang kini bersaing dengan AI dalam menyiarkan konten berita. Namun, perlu diingat bahwa AI tetaplah alat yang diciptakan oleh manusia. Kemajuan AI bukanlah sesuatu yang bisa dihentikan. Namun, bagaimana manusia menggunakannya akan menentukan apakah AI menjadi solusi atau ancaman. Jika manusia mampu memanfaatkan AI dengan bijak bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai alat bantu maka AI dapat membawa banyak manfaat. Namun, jika manusia terlalu bergantung pada AI tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, maka AI bisa menjadi ancaman yang mengikis kemandirian manusia. (Red/*)