Oleh : Hery Buha Manalu
Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia kembali diuji di tengah dinamika ekonomi global, yang penuh ketidakpastian. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, arus modal asing, serta pergerakan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi indikator penting yang mencerminkan stabilitas ekonomi nasional. Dengan berbagai tekanan eksternal, sejauh mana Indonesia mampu menjaga daya tahan ekonominya?
Tekanan Global dan Respons Rupiah
Dalam pekan ketiga Februari 2025, rupiah mengalami fluktuasi cukup signifikan. Pada 20 Februari 2025, rupiah ditutup di level Rp16.325 per dolar AS, sebelum kembali menguat ke Rp16.280 per dolar AS pada 21 Februari 2025. Sementara itu, yield SBN 10 tahun sempat naik ke 6,78% sebelum turun tipis menjadi 6,75%.
Pergerakan ini dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, terutama kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) yang masih mempertahankan tingkat suku bunga tinggi. Yield US Treasury (UST) 10 tahun naik ke 4,505%, mencerminkan tingginya imbal hasil aset safe haven yang menarik bagi investor global. Dampaknya, arus modal cenderung keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, indikator lain menunjukkan kepercayaan investor masih cukup stabil. Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun—yang mencerminkan persepsi risiko negara—naik tipis ke 69,66 bps, namun masih dalam rentang yang aman. Ini menandakan bahwa pasar keuangan masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik.
Arus Modal Asing: Tantangan dan Peluang
Aliran modal asing ke Indonesia dalam periode 17-20 Februari 2025 menunjukkan sinyal positif. Investor asing mencatat beli neto sebesar Rp7,58 triliun, yang terdiri dari:J ual neto Rp0,46 triliun di pasar saham, Beli neto Rp6,96 triliun di pasar SBN. Beli neto Rp1,08 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Namun, jika melihat sepanjang tahun 2025, investor asing masih jual neto Rp7,74 triliun di pasar saham, meskipun mereka tetap beli neto Rp18,99 triliun di pasar SBN dan Rp3,23 triliun di SRBI. Ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investasiinvestasi dari saham ke instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi pemerintah dan SRBI.
Dalam kondisi seperti ini, stabilitas sektor keuangan Indonesia akan sangat bergantung pada kepercayaan investor global. Jika kondisi ekonomi eksternal memburuk, risiko capital outflow (keluarnya dana asing) bisa meningkat dan memberikan tekanan tambahan pada rupiah.
Strategi Memperkuat Ketahanan Ekonomi
Bank Indonesia bersama pemerintah terus berupaya menjaga ketahanan eksternal ekonomi dengan beberapa strategi utama:
1. Intervensi di pasar keuangan
BI secara aktif menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar valas dan pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini penting untuk menekan volatilitas nilai tukar dan menjaga likuiditas.
2. Meningkatkan daya tarik investasi
Pemerintah terus mengembangkan instrumen keuangan yang menarik bagi investor asing, seperti SRBIÂ dan obligasi valas. Dengan imbal hasil yang kompetitif, diharapkan dana asing tetap masuk ke pasar domestik.
3. Diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi
Mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas dan meningkatkan nilai tambah industri domestik menjadi prioritas. Dengan demikian, ekonomi Indonesia tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
4. Memperkuat cadangan devisa
Cadangan devisa yang kuat menjadi benteng utama dalam menghadapi tekanan eksternal. BI terus memastikan agar cadangan devisa mencukupi untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri.
Mampukah Indonesia Bertahan?
Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia menghadapi tantangan besar, tetapi masih berada dalam jalur yang cukup aman. Fluktuasi rupiah, arus modal asing, dan pergerakan SBN menjadi indikator utama yang harus terus dipantau. Dengan strategi kebijakan yang tepat, Indonesia dapat memperkuat daya tahannya terhadap guncangan eksternal dan memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Namun, pertanyaan besarnya adalah: Seberapa kuat Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global di masa depan? Jawabannya bergantung pada seberapa baik pemerintah dan otoritas keuangan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, stabilitas pasar, dan kepercayaan investor. (Red/*)