spot_img
BerandaAkademikaTeologi, Benarkah sebagai Budaya Tandingan?

Teologi, Benarkah sebagai Budaya Tandingan?

IMG 20191021 163545
Gerejs bercorak Gorga Batak, di Tapanuli Utara Sumatera Utara/Foto : Hery Buha Manalu/Kopitimes
Kopi Times, Model budaya tandingan adalah salah satu model yang digunakan dalam teologi kontekstual yang berusaha terlibat dan relevan dengan konteks sambil setia pada Injil, juga berani untuk menantang dan mengubah konteks.


Dilansir dari wikipedia, Menurut model ini, Kekristenan harus menjadi penolakan radikal dan menawarkan budaya tandingan terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat.


Model ini menyadari bahwa manusia dan ekspresi teologis hanya dapat hidup dalam situasi yang dikondisikan secara historis dan kultural, sambil juga kritis dan curiga terhadap konteks.


Teologi, model budaya tandingan bukanlah anti-budaya, malah ia melihat bahwa injil harus dikomunikasikan dalam budaya dan tidak melihat budaya sebagai sesuatu yang jahat.


Beberapa tokoh yang menganut model ini antara lain adalah Lesslie Newbigin, Michael Baxter, dan George Hunsberger.


Namun, terdapat juga beberapa kecenderungan yang berbahaya atau kelemahan dalam model ini.


Pertama, adanya bahaya untuk menjadi anti-budaya, apabila para praktisi model ini terlalu menganggap budaya itu jahat, sehingga dapat terjadi pemusnahaan budaya seperti masa para misionaris dulu.


Kedua, ada kecenderungan menjadi sektarian, jika gereja terlalu memusatkan perhatian untuk membangun indentitasnya, tanpa terlibat ke tengah dunia.


Kecenderungan ketiga adalah bersifat monokultural, yaitu hanya relevan digunakan pada budaya Barat, dalam konteks orang kulit putih yang kaya.


Yang keempat adalah bahaya eksklusivisme Kristen atas agama-agama lain, karena terlalu menekankan dan terjebak pada superioritas Kristen dan narasi Kristen.
Pertukaran antara pemikiran teologi dan budaya. Salah satunya pemikiran teologi yang mengnagap budaya adalah tantangan bagi teologi. Sementara para budayawan memikirkan teologi adalah bagian dari kebudayaan manusia.
Kalangan teolog sejati selalu mengupayakan budaya adalah bahasa Tuhan dalam kearifian lokal dengan pendekatan teologi inkulturalisme. Model budaya tandingan model yang digunakan dalam teologi kontekstual berusaha terlibat dan relevan dengan konteks sambil setia pada Injil, juga berani untuk menantang dan mengubah konteks. (Red/***Hery Buha Manalu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini